
Kompas69 — Cerita Dewasa Ngentot Dengan Ibu Dokter Seksi Yang Sudah Menjanda — Ditanganku saat itu ada hasil pemeriksaan USG yang menunjukkan gambar janin berumur 10 minggu yang sehat. Keputusanku untuk di USG sebenarnya bukan untuk melihat janin ini tetapi untuk memeriksa perutku karena beberapa minggu ini aku merasa sering mual-mual dan tidak sembuh-sembuh dengan obat-obatan biasa.
Aku tidak menyangka hubungan badanku dengan Ferry akan membuatku hamil dengan cepat, padahal hubungan badan pertamaku dengan Ferry baru menginjak bulan ke-3. Namaku Yunita, seorang dokter di Bandung yang sedang mengambil spesialisasi mata saat cerita ini terjadi. Umurku saat itu sekitar 36 tahun dan berstatus janda cerai dengan satu anak perempuan ABG.
Mantan suamiku juga dokter ahli penyakit dalam yang belakangan aku ketahui punya kelainan sex, yaitu bisex (suka perempuan dan laki-laki). Sehingga karena tidak tahan akhirnya aku minta cerai setelah ayahku meninggal. Perceraian dan kehilangan ayah membuat aku menjadi gamang, apalagi bagiku ayahku adalah segala-galanya.
Kegamanganku itu rupanya terbaca dan dimanfaatkan oleh dokter NL, seorang dokter senior yang sangat dihormati di kotaku yang juga sekaligus menjadi dosen pembimbing program spesialisku. Dengan pendekatan kebapakannya dia akhirnya bisa membawaku ke ranjangnya tanpa banyak kesulitan. Affair kami awalnya berlangsung cukup panas karena kami punya banyak kesempatan bersama untuk melakukannya di manapun kami ingin, seperti di tempat praktek, di rumah sakit, di rumah dokter NL (saat ada istrinya) bahkan di dalam pesawat kecil (dokter NL ini adalah juga seorang pilot).
Karena alasanku berhubungan dengannya adalah untuk mengisi kekosongan sosok seorang ayah, maka aku pada awalnya tidak begitu peduli dengan kualitas hubungan seks yang aku dapat yaitu jarangnya aku mendapat orgasme. Hubungan kami inipun tidak pernah membuatku sampai hamil walaupun kami sering melakukannya pada periode suburku tanpa pengaman.
Karena
perbedaan umur yang cukup jauh, pelan-pelan aku mulai ada rasa bosan
setiap kali berhubungan badan dengan pembimbingku ini. Apalagi
kedekatanku dengan dokter NL ini membuatku mulai dijauhi oleh
teman-teman kuliahku yang secara tidak langsung mulai menghambat program
spesialisasiku. Akhirnya pada suatu acara reuni kecil-kecilan SMAku,
aku bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lamaku, termasuk Ferry.
Aku
dan Ferry sebenarnya sewaktu di SMA bersahabat sangat dekat sehingga
beberapa teman menganggap kami pacaran. Tapi setelah lulus SMA, Ferry
memilih untuk berpacaran dengan sahabatku yang lain yang kemudian
menjadi istrinya. Kalau sebelumnya aku lebih sering berhubungan dengan
istrinya Ferry, bahkan kedua anak kami juga bersahabat.
Tapi setelah acara reuni itu, aku juga menjadi sering bekomunikasi kembali dengan Ferry, baik lewat telepon maupun SMS. Akhirnya Ferry menjadi teman curhatku, termasuk masalah affairku dengan dokter NL dan entah kenapa aku menceritakannya dengan detail sampai ke setiap kejadian. Ferry adalah pendengar yang baik dan dia sama sekali tidak pernah langsung menghakimi apa yang telah kulakukan, terutama karena tahu persis latar belakangku.
Komunikasiku dengan Ferry sebagian besar sepengetahuan istrinya, walaupun detailnya hanya menjadi rahasia kami berdua. Kalau aku sudah suntuk teleponan, kadang-kadang dia mengajakku jalan-jalan untuk ngobrol langsung sehingga pelan-pelan aku mulai bisa melupakan afairku dengan dokter NL dan mencoba membina hubungan yang baru dengan beberapa laki-laki yang dikenalkan oleh teman-temanku.
Sayangnya
aku sering kurang merasa sreg dengan mereka, terutama karena mereka
tidak bisa mengerti mengenai jam kerja seorang dokter yang sedang
mengambil kualiah spesialisnya. Lagi-lagi kalau ada masalah dengan
teman-teman priaku ini aku curhat kepada Ferry yang sebagai anak seorang
dokter Ferry memang juga bisa memahami kesulitanku dalam mengatur waktu
dengan mereka.
Hingga pada suatu siang aku mengajak Ferry untuk
menemaniku ke rumah peristirahatan keluargaku di Lembang yang akan
dipakai sebagai tempat reuni akbar SMAku. Aku ingin minta saran Ferry
tentang bagaimana pengaturan acaranya nanti disesuaikan dengan fasilitas
yang tersedia di sana. Seperti biasa sepanjang jalan kita banyak
ngobrol dan bercanda, tapi entah kenapa obrolan dan canda kita berdua
kali ini sering menyinggung seputar pengalaman dan fantasi dalam
hubungan seks masing-masing.
Sekali-sekali kita juga bercanda mengenai “perabot” kita masing-masing dan apa saja yang suka dilakukan dengan
“perabot”
itu saat bersetubuh. Entah kenapa dari obrolan yang sebenarnya lebih
banyak bercandanya ini membuat aku mulai sedikit terangsang, putingku
kadang-kadang mengeras dan vaginaku mulai terasa sedikit berlendir.
Waktu aku lirik celananya Ferry juga terlihat lebih menonjol yang
mungkin karena penisnya juga berereksi.
Dalam pikiranku mulai
terbayangkan kembali beberapa hubungan badan di masa lalu yang paling
berkesan kenikmatannya. Tanpa terasa akhirnya kami sampai di rumah
peristirahatan keluargaku, perhatianku jadi teralihkan untuk memberi
pesan-pesan kepada mamang penjaga rumah dan tukang kebun yang ada di
sana untuk mempersiapkan rumah tersebut sebelum akhirnya membawa Ferry
berkeliling rumah.
Seperti
waktu SMA dulu, obrolan kami kadang-kadang diselingi dengan saling
bergandengan tangan, saling peluk dan rangkul atau sekedar mengelus-elus
kepala dan pipi. Setelah selesai berkeliling kami kembali ke ruang
tengah yang mempunyai perapian yang biasa dipakai menghangatkan ruangan
dari udara malam Lembang yang cukup dingin.
Di sana Ferry kembali
memeluk pinggangku dengan kedua tangannya dari depan sehingga kami dalam
posisi berhadapan. Pelukannya itu aku balas dengan memeluk leher dan
bahunya sehingga kami terlihat seperti pasangan yang sedang berdansa.
“Mmmmpppphhhh ……” Ferry tiba-tiba memangut bibirku lalu mengulumnya dengan hangat dan lembut.
Walaupun
saat itu aku benar-benar kaget, tapi entah kenapa aku merasa senang
karena dicium oleh orang yang aku anggap sangat dekat denganku.
Dengan
jantungku berdebar aku kemudian memberanikan diri untuk membalas
ciumannya sehingga kami berciuman cukup lama dengan diselingi permainan
lidah ringan.
“Ahhh…….” Tanpa sadar aku mendesah saat ciuman perdana
kami itu akhirnya berakhir. Sesaat setelah bibir kami lepas, aku masih
memejamkan mata dengan muka sedikit menengadah dan bibir yang setengah
terbuka untuk menikmati sisa-sisa ciuman tadi yang masih begitu terasa
olehku. Aku baru tersadar setelah Ferry menaruh telunjuknya dibibirku
yang sedang terbuka dan memandangku dengan lembut sambil tersenyum.
Kemudian dia menarik kepalaku ke dadanya sehingga sekarang kami saling berpelukan dengan eratnya. Jantungku semakin berdebar dan nafasku mulai tidak teratur, ciuman tadi telah membangkitkan “kebutuhanku” akan kehangatan belaian laki-laki. Tanpa menunggu lama, aku mengambil inisiatif untuk melanjutkan ciuman kami dengan memangut bibir Ferry lebih dulu setelah melakukan beberapa kecupan kecil pada lehernya.
Kali ini aku menginginkan ciuman yang lebih “panas” sehingga tanpa sadar aku memangut bibirnya lebih agresif. Ferry langsung membalasnya dengan lebih ganas dan agresif, lidahnya langsung menjelahi mulutku, membelit lidahku dan bibirnya melumat bibirku. Ciuman yang bertubi-tubi dan berbalasan membuat tubuh kami berdua akhirnya kehilangan keseimbangan hingga jatuh terduduk di atas sofa.
Tangan
Ferry mulai bergerilya meremas-remas buah dadaku, mula-mulai masih dari
luar baju kaosku tapi tak lama kemudian tangannya sudah masuk ke dalam
kaosku. Kedua cup-BHku sudah dibuatnya terangkat ke atas sehingga kedua
buah dadaku dengan mudah dijangkaunya langsung. Jari-jarinya juga dengan
sangat lihai dalam mempermainkan putting buah dadaku.
Bibir Ferry
juga mulai menciumi leher dan kedua kupingku sehingga menimbulkan rasa
geli yang amat sangat. Terus terang dengan aksi Ferry itu aku menjadi
sangat terangsang dan membankitkan keinginanku untuk bersetubuh. Maklum
sejak putus dengan dosen pembimbingku praktis aku tidak pernah lagi
tidur dengan laki-laki lain.
Aku saat itu sudah sangat berharap Ferry segera memintaku untuk bersetubuh dengannya atau meningkatkan agresifitasnya ke arah persetubuhan. Aku rasakan vaginaku sudah sangat basah dan aku mulai sulit berpikir jernih lagi karena dikendalikan oleh berahi yang semakin memuncak. Sebaliknya Ferry kelihatan masih merasa cukup dengan mencium meremas buah dadaku saja yang membuat aku semakin tersiksa karena semakin terbakar oleh nafsu berahiku sendiri.
“To, kamu mau ga ML sama aku sekarang ?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dengan ringan dari mulutku di mana dalam kondisi biasa sangat tidak mungkin aku berani memulainya. Hanya dengan melihat Ferry menjawabnya dengan anggukan sambil tersenyum, aku langsung meloncat dari sofa dan berdiri di hadapan Ferry sambil melepas kaos atas dan BHku dengan terburu-buru. Melihat itu, Ferry membantuku dengan melepas kancing dan risleting celana jeansku sehingga memudahkanku untuk mempelorotkannya sendiri ke bawah.
Ferry
sekali lagi membantuku dengan menarik celana dalamku sampai terlepas
hingga membuat tubuhku benar-benar telanjang bulat tanpa ada lagi yang
menutupi. Tanpa malu-malu, aku kemudian menubruk Ferry di sofa untuk
kemudian duduk dipangkuannya dengan posisi kedua kakiku mengangkangi
kakinya. Kami lalu berciuman lagi dengan ganasnya sambil kedua tangan
Ferry mulai meraba-raba dan meremas-remas tubuh telanjangku sebelah
bawah..
“Akkhhhhhh ….” Aku menjerit pendek saat Ferry memasukkan jari
tangannya ke dalam liang senggama dari vaginaku yang sudah mengangkang
di pangkuannya. Tanpa menunggu lama mulut Ferry juga langsung menyambar
putting payudaraku membuat badanku melenting-lenting kenikmatan yang
sudah lama tidak kunikmati. Ferry semakin agresif dengan memasukkan dua
jarinya untuk mengocok-ngocok liang senggamaku yang membuat gerakan
badanku semakin liar.
Gerakanku yang sudah makin tidak terkendali
rupanya membuat Ferry kewalahan, lalu dengan perlahan dia mendorongku
untuk rebah di karpet tebal yang terhampar di bawah sofa. Kemudian
dengan tenang Ferry mulai membuka bajunya satu persatu sambil mengamati
tubuh telanjangku dihadapannya yang menggelepar gelisah oleh berahiku
yang sudah sangat memuncak.
Melihat Ferry memandangiku seperti itu,
apalagi dengan masih berpakaian lengkap, tiba-tiba aku menjadi sangat
malu sehingga aku raih bantal terdekat untuk menutupi muka dan dadaku
sedangkan pahaku aku rapatkan supaya kemaluanku tidak terlihat Ferry
lagi. Sesaat kemudian aku merasakan Ferry membuka pahaku lebar-lebar dan
tanpa menunggu lama-lama kurasakan penisnya mulai melakukan penetrasi.
BLESSSSSS ……kurasakan penis Ferry meluncur dengan mulus memasuki liang senggamaku yang sudah becek sampai hampir menyentuh leher rahimku.
“Uhhhhhhmmmm
….” Aku mengeluarkan suara lenguhan dari balik bantal menikmati
penetrasi pertama dari penis sahabatku yang sudah aku kenal lebih dari
20 tahun.
“Katanya tadi mau ngajak ML ….” Kata Ferry sambil mengambil bantal yang kupakai menutupi mukaku sambil tersenyum menggoda.
“Sok
atuh dimulai saja ….” Jawabku sekenanya dengan muka memerah karena
masih malu CROK … CROK … CROK …CROK …. CROK … ayunan penis Ferry
langsung menimbulkan bunyi-bunyian dari cairan vaginaku.
Ferry
mengait kedua kakiku dengan tanganya sehingga mengangkang dengansangat
lebar untuk membuatnya lebih leluasa menggerakkan pinggulnya dalam
melakukan penetrasi selanjutnya.
“Ferryoo…..ohhhh…ahhhhh….. nikmat
sekali …Ferryoo….” Aku mulai meracau kenikmatan. Kedua kakiku kemudian
dipindah ke atas bahu Ferry sehingga pinggulku lebih terangkat,
sedangkan Ferry sendiri badannya sekarang menjadi setengah berlutut.
Posisi
ini membuat sodokan penis Ferry lebih banyak mengenai bagian atas
dinding liang senggamaku yang ternyata mendatangkan kenikmatan luar
biasa yang belum pernah aku dapat dari laki-laki yang pernah meniduriku
sebelumnya.
“Adduuhhh …. enak sekali … ooohhh…. … kontolnya
….tooo…..kontolmu enak sekaliii …” aku mulai meracau dengan pilihan
bahasa yang sudah tidak terkontrol lagi. Aku lihat posisi Ferry kemudian
berubah lagi dari berlutut menjadi berjongkok sehingga dia bisa
mengayun penisnya lebih panjang dan lebih bertenaga. Badanku mulai
terguncang-guncang dengan cukup keras oleh ayunan pinggul Ferry.
Ayunan
penisnya yang panjang dan dalam seolah-olah menembus sampai ke dalam
rahimku secara terus menerus sampai akhirnya aku mulai mencapai
orgasmeku.
“Yanntooooooo ….. aaaak …kkk…kuu…udd…da…aahh…mmaau…
dddaaapaaat …” kata-kataku jadi terputus-putus karena guncangan badanku.
Ferry merespon dengan mengurangi kecepatan ayunan penisnya sambil
menurunkan kakiku dari bahunya. “Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhh …….”
Akhirnya gelombang orgasmeku datang bergulung-gulung, bola mataku
terangkat sesaat ke arah atas sehingga tinggal putih matanya saja dan
kedua tanganku meremas-remas buah dadaku sendiri.
Ferry memberikan
kecupan-kecupan kecil saat nafasku masih terengah-engah sambil tetap
memaju mundurkan dengan pelan penisnya yang masih keras menunggu aku
siap kembali karena dia sendiri belum sampai ejakulasi. Setelah nafasku
mulai teratur, aku peluk Ferry lalu kami berciuman dengan penuh gairah
dan kepuasan untuk babak ke satu ini.
“Yunita, aku boleh minta masuk dari belakang ?” Bisiknya ditelingaku
“Tentu
saja sayang, kamu boleh minta apa saja dari aku …” Aku menjawab sambil
tersenyum manis padanya. Ferry dengan hati-hati bangun dari atas tubuhku
sampai berlutut, kemudian dengan pelan-pelan dia cabut penisnya dari
vaginaku.
“Uhhhhhhhh ….” Aku medesah karena merasa geli bercampur nikmat saat penisnya dicabut. Poker Uang Asli
Aku
lihat penis Ferry masih mengacung keras dan sedikit melengkung ke atas,
batang penisnya yang penuh dililit urat-urat terlihat sangat basah oleh
cairan vaginaku. Karpet yang tepat di bawah selangkanganku juga sangat
basah oleh cairanku yang langsung mengalir ke karpet tanpa terhalang
bulu-bulu kemaluanku.
Cerita Sex Terbaru—
Vaginaku memang hanya berbulu sedikit seperti anak-anak gadis yang baru
mau puber, itupun hanya ada di bagian atas dekat perutku, sehingga aku
tidak perlu repot-repot lagi mencukurnya.
“Ayo Lan, balikkan tubuh
kamu” Pinta Ferry padaku Setelah berhasil mengankat tubuhku sediri, aku
lalu membalikkan badan untuk mengambil posisi menungging sebagai
persiapan melakukan persetubuhan doggy style sesuai permintaannya tadi.
Aku
rasakan Ferry medekat karena penisnya sudah terasa menempel di belahan
pantatku dekat liang anus. Posisi kedua kakiku dia betulkan sedikit
untuk mempermudahnya melakukan penetrasi. BLESSSSS ………………… untuk kali
kedua penisnya masuk ke dalam liang senggamaku dengan mulus
“OOOOOHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH …………” Aku melenguh dengan kerasnya
mengikuti masuknya penis tersebut.
Kurasakan penis Ferry mulai
bergerak maju mundur, bukan hanya karena gerakan pinggulnya saja tapi
juga karena dengan tangannya Ferry juga menarik dan mendorong pinggulku
sesuai dengan arah gerakan penisnya dia sehingga aku seperti
“ditabrak-tabrak” oleh penisnya.